Google+ Badge

Selasa, 29 Januari 2013

MAKALAH ANALISIS FILM NEGERI 5 MENARA


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Ahmad Fuadi (lahir di Bayur Maninjau, Sumatera Barat, 30 Desember 1972; umur 40 tahun) adalah novelis, pekerja sosial dan mantan wartawan dari Indonesia. Novel pertamanya adalah novel Negeri 5 Menara yang merupakan buku pertama dari trilogi novelnya dan diangkat menjadi sebuah film. Karya fiksinya dinilai dapat menumbuhkan semangat untuk berprestasi. Walaupun tergolong masih baru terbit, novelnya sudah masuk dalam jajaran best seller tahun 2009. Kemudian meraih Anugerah Pembaca Indonesia 2010 dan tahun yang sama juga masuk nominasi Khatulistiwa Literary Award, sehingga PTS Litera, salah satu penerbit di negeri jiran Malaysia tertarik menerbitkan di negaranya dalam versi bahasa melayu. Novel keduanya yang merupakan trilogi dari Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna telah diterbitkan sejak 23 Januari 2011. Fuadi mendirikan Komunitas Menara, sebuah yayasan sosial untuk membantu pendidikan masyarakat yang kurang mampu, khususnya untuk usia pra sekolah. Saat ini Komunitas Menara punya sebuah sekolah anak usia dini yang gratis di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.
Memulai pendidikan menengahnya di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo dan lulus pada tahun 1992. Kemudian melanjutkan kuliah Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran, setelah lulus menjadi wartawan Tempo. Kelas jurnalistik pertamanya dijalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah bimbingan para wartawan senior Tempo. Tahun 1998, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk kuliah S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Merantau ke Washington DC bersama Yayi, istrinya---yang juga wartawan Tempo-adalah mimpi masa kecilnya yang menjadi kenyataan. Sambil kuliah, mereka menjadi koresponden TEMPO dan wartawan VOA. Berita bersejarah seperti peristiwa 11 September 2001 dilaporkan mereka berdua langsung dari Pentagon, White House dan Capitol Hill.
Tahun 2004, jendela dunia lain terbuka lagi ketika dia mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk bidang film dokumenter. Penyuka fotografi  ini pernah menjadi Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi: The Nature Conservancy.
Ia adalah cucu Buya H. Sulthany Datuk Rajo Dubalang dan Buya Sulaiman Katik Indo Marajo.












B.     Pembatasan Masalah
dapat diidentifikasi sebagai berikut,
Unsur sastra yang dianalisis terbatas pada unsur intrinsik yang meliputi alur, pelaku, dan latar film dan ektrinsik
Film yang dianalisis terbatas pada Film yang berjudul “negeri 5 menara” Karya Ahmad Fuadi.
Penyusunan model bahan ajar terbatas pada kompetensi dasar “Menjelaskan alur cerita, pelaku, dan latar film .

C.    Perumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah yang telah dikemukakan di atas, penulis dapat merumuskan masalah ke dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut,
Sejauh manakah siswa memahami unsur intrinsik alur cerita, pelaku, dan latar Film yang berjudul “negeri 5 menara” Karya Ahmad Fuadi.
Bagaimanakah menyusun bahan ajar menganalisis unsur intrinsik Film dengan memanfaatkan hasil analisis alur cerita, pelaku, dan latar Film yang berjudul “negeri 5 menara” Karya Ahmad Fuadi.

D.    Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang unsur intrinsik film Indonesia.
Adapun secara khusus tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
Untuk memperoleh gambaran tentang alur cerita, pelaku, dan latar film yang berjudul “negeri 5 menara” Karya Ahmad Fuadi.
Menyusun model bahan ajar dengan memanfaatkan hasil analisis unsur instrinsik alur cerita, pelaku, dan latar film yang berjudul “negeri 5 menara” Karya Ahmad Fuadi.

E.     Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, terutama bagi penulis, Mahasiswa dan pembaca.

F.     Manfaat bagi penulis
Manfaat administratif yaitu administrati penelitian yang penulis lakukan bisa dijadikan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, di STKIP PGRI PONTIANAK.
Manfaat teoritis yaitu menambah wawasan khususnya tentang masalah yang diteliti.
Manfaat praktis yaitu bertambahnya pengalaman dalam melakukan penelitian khsusnya penelitian kualitatif tentang unsur intrinsik  film.

Manfaat bagi Mahasiswa
Mengetahui kemampuan siswa dalam mengapresiasi karya sastra, (film)
Menambah keterampilan siswa dalam mengapresiasi karya sastra, (film)
Menarik minat baca siswa terhadap karya sastra, (film)

Manfaat bagi pembaca
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dalam mempelajari unsur intrinsik dan ektrinsik suatu film.



BAB II
KAJIAN TEORI
A.    Pengertian film
Film adalah gambar-hidup, juga sering disebut movie. Film, secara kolektif, sering disebut sinema. Sinema itu sendiri bersumber dari kata kinematik atau gerak. Film juga sebenarnya merupakan lapisan-lapisan cairan selulosa, biasa di kenal di dunia para sineas sebagai seluloid. Pengertian secara harafiah film (sinema) adalah Cinemathographie yang berasal dari Cinema + tho = phytos (cahaya) + graphie = grhap (tulisan = gambar = citra), jadi pengertiannya adalah melukis gerak dengan cahaya. Agar kita dapat melukis gerak dengan cahaya, kita harus menggunakan alat khusus, yang biasa kita sebut dengan kamera.
Film dihasilkan dengan rekaman dari orang dan benda (termasuk fantasi dan figur palsu) dengan kamera, dan/atau oleh animasi. Kamera film menggunakan pita seluloid (atau sejenisnya, sesuai perkembangan teknologi). Butiran silver halida yang menempel pada pita ini sangat  sensitif terhadap cahaya. Saat proses cuci film, silver halida yang telah terekspos cahaya dengan ukuran yang tepat akan menghitam, sedangkan yang kurang atau sama sekali tidak terekspos akan tanggal dan larut bersama cairan pengembang (developer).
Definisi Film Menurut UU 8/1992, adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem Proyeksi mekanik, eletronik, dan/atau lainnya;
Istilah film pada mulanya mengacu pada suatu media sejenis plastik yang dilapisi dengan zat peka cahaya. Media peka cahaya ini sering disebut selluloid. Dalam bidang fotografi film ini menjadi media yang dominan digunakan untuk menyimpan pantulan cahaya yang tertangkap lensa. Pada generasi berikutnya fotografi bergeser padapenggunaan media digital elektronik sebagai penyimpan gambar.
Dalam bidang sinematografi perihal media penyimpan ini telah mengalami perkembangan yang pesat. Berturut-turut dikenal media penyimpan selluloid (film), pita analog, dan yang terakhir media digital (pita, cakram, memori chip). Bertolak dari pengertian ini maka film pada awalnya adalah karya sinematografi yang memanfaatkan media selluloid sebagai penyimpannya.
Sejalan dengan perkembangan media penyimpan dalam bidang sinematografi, maka pengertian film telah bergeser. Sebuah film  cerita dapat  diproduksi tanpa menggunakan selluloid (media film). Bahkan saat ini sudah semakin sedikit film yang menggunakan media selluloid pada tahap pengambilan gambar. Pada tahap pasca produksi gambar yang telah diedit dari media analog maupun digital dapat disimpan pada media yang fleksibel. Hasil akhir karya sinematografi dapat disimpan Pada media selluloid, analog maupun digital.
Perkembangan teknologi media penyimpan ini telah mengubah pengertian film dari istilah yang mengacu pada bahan ke istilah yang mengacu pada bentuk karya seniaudio-visual. Singkatnya film kini diartikan sebagai suatu genre (cabang) seni yang menggunakan audio (suara) dan visual (gambar) sebagai medianya.Istilah film pada mulanya mengacu pada suatu media sejenis plastik yang dilapisi dengan zat peka cahaya. Media peka cahaya ini sering disebut selluloid. Dalam bidang fotografi film ini menjadi media yang dominan digunakan untuk menyimpan pantulan cahaya yang tertangkap lensa.
Pada generasi berikutnya fotografi bergeser padapenggunaan media digital elektronik sebagai penyimpan gambar. Dalam bidang sinematografi perihal media penyimpan ini telah mengalami perkembangan yang pesat. Berturut-turut dikenal media penyimpan selluloid (film), pita analog, dan yang terakhir media digital (pita, cakram, memori chip). Bertolak dari pengertian ini maka film pada awalnya adalah karya sinematografi yang memanfaatkan media selluloid sebagai penyimpannya.
Sejalan dengan perkembangan media penyimpan dalam bidang sinematografi, maka pengertian film telah bergeser. Sebuah filmcerita dapat diproduksi tanpa menggunakan selluloid (media film). Bahkan saat ini sudah semakin sedikit film yang menggunakan media selluloid pada tahap pengambilan gambar. Pada tahap pasca produksi gambar yang telah diedit dari media analog maupun digital dapat disimpan pada media yang fleksibel. Hasil akhir karya sinematografi dapat disimpan Pada media selluloid, analog maupun digital.
Perkembangan teknologi media penyimpan ini telah mengubah pengertian film dari istilah yang mengacu pada bahan ke istilah yeng mengacu pada bentuk karya seniaudio-visual. Singkatnya film kini diartikan sebagai suatu genre (cabang) seni yang menggunakan audio (suara) dan visual (gambar) sebagai medianya.

B.     Unsur-Unsur Film
Film mempunyai unsur-unsur yang terkandung di dalam unsur-unsur tersebut adalah:
a. unsur Intrinsik
unsur yang terdapat di dalam karya sastra.yang mempengaruhi karya sastra tersebut,unsure intrinsik dalam cerita meliputi 

 Tema
        Pokok persoalan dalam cerita.

  Karakter tokoh
Tokoh dalam cerita. Karakter dapat berupa manusia, tumbuhan maupun benda
Karekter dapat dibagi menjadi:

  • Karakter utama: tokoh yang membawakan tema dan memegang banyak peranan dalam cerita
  • Karakter pembantu: tokoh yang mendampingi karakter utama
  • Protagonis : karakter/tokoh yang mengangkat tema
  • Antagonis : karakter/tokoh yang memberi konflik pada tema dan biasanya berlawanan dengan karakter protagonis. (Ingat, tokoh antagonis belum tentu jahat).


Konflik
Konflik  adalah pergumulan yang dialami oleh karakter dalam cerita dan . Konflik ini merupakan inti dari sebuah karya sastra yang pada akhirnya membentuk plot. Ada empat macam konflik, yang dibagi dalam dua garis besar:

Konflik internal
Individu-diri sendiri: Konflik ini tidak melibatkan orang lain, konflik ini ditandai dengan gejolak yang timbul dalam diri sendiri mengenai beberapa hal seperti nilai-nilai. Kekuatan karakter akan terlihat dalam usahanya menghadapi gejolak tersebut
Konflik eksternal                                                                                                        
Individu – Individu: konflik yang dialami seseorang dengan orang lain
Individu – alam: Konflik yang dialami individu dengan alam. Konflik ini menggambarkan perjuangan individu dalam usahanya untuk mempertahankan diri dalam kebesaran alam. Individu- Lingkungan/ masyarakat : Konflik yang dialami individu dengan masyarakat atau lingkungan hidupnya.

Seting
Keterangantempat, waktu dan suasana cerita.
Sebuah cerita harus jelas dimana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta
keadaan ketika cerita berlangsung

Plot
Jalan cerita dari awal sampai selesai
  • Eksposisi : penjelasan awal mengenai karakter dan latar( bagian cerita yang mulai memunculkan konflik/ permasalahan)
  • Klimaks : puncak konflik/ ketegangan
  • Falling action: penyelesaian

Sudut pandang
Sudut pandang yang dipilih penulis untuk menyampaikan ceritanya.
  • Orang pertama: penulis berlaku sebagai karakter utama cerita, ini ditandai dengan penggunaan kata “aku”. Penggunaan teknik ini menyebabkan pembaca tidak mengetahui segala hal yang tidak diungkapkan oleh sang narator. Keuntungan dari teknik ini adalah pembaca merasa menjadi bagian dari cerita.
  • Orang kedua: teknik yang banyak menggunakan kata ‘kamu’ atau ‘Anda.’ Teknik ini jarang dipakai karena memaksa pembaca untuk mampu berperan serta dalam cerita.
  • Orang ketiga: cerita dikisahkan menggunakan kata ganti orang ketiga, seperti: mereka dan dia.



Teknik penggunaan bahasa        
Dalam menuangkan idenya, penulis biasa memilih kata-kata yang dipakainya sedemikian rupa sehingga segala pesannya sampai kepada pembaca. Selain itu, teknik penggunaan bahasa yang baik juga membuat tulisan menjadi indah dan mudah dikenang. Teknik berbahasa ini misalnya penggunaan majas, idiom dan peribahasa.

Amanat
Nilai (amanat) : pesan atau nasihat yang ingin disampaikan pengarang emalalui
cerita

b. unsur Ekstrinsik

DikatakanFananie (2001:77) Faktor ekstrinsik adalah segala faktor luar yang melatarbelakangi penciptaan karya sastra. Ia merupakan milik subjektif pengarang yang bisa berupa kondisi social, motivasi, tendensi yang mendorong dan mempegaruhi kepengarangan seseorang. Faktor-faktor ekstrinsik itu dapat meliputi:

 1) tradisi dan nilai-nilai,
2) struktur kehidupan sosial,
3) keyakinan dan pandangan hidup,
4) suasana politik,
5) lingkungan hidup,
6) agama, dan sebagainya.


BAB III
ANALISIS
A.    SINOPSIS
Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain bola di sawah berlumpur dan tentu mandi berkecipak di air biru Danau Maninjau.

Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: belajar di pondok.



Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan “mantera” sakti man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses.

Dia terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak menggigau dalam bahasa Inggris, merinding mendengar ribuan orang melagukan Syair Abu Nawas dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara.


Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai,  Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa.  Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian jiwa muda ini membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.

Bagaimana perjalanan mereka ke ujung dunia ini dimulai? Siapa horor nomor satu mereka? Apa pengalaman mendebarkan di tengah malam buta di sebelah sungai tempat jin buang anak? Bagaimana sampai ada yang kasak-kusuk menjadi mata-mata misterius? Siapa Princess of Madani yang mereka kejar-kejar? Kenapa mereka harus botak berkilat-kilat? Bagaimana sampai Icuk Sugiarto, Arnold Schwarzenegger, Ibnu Rusyd, bahkan Maradona sampai akhirnya ikut campur? Ikuti perjalanan hidup yang inspiratif ini langsung dari mata para pelakunya. Negeri Lima Menara adalah buku pertama dari sebuah trilogi.
B.     HASIL ANALISIS
§  Unsur-Unsur Intrinsik
1.      Tema
Tema Film Negeri 5 Menara adalah Pendidikan, hal ini dapat kita lihat sendiri dari lembaran-lembaran novel ini yang menceritakan bagaimana tokoh-tokoh utama di dalamnya mengenyam pendidikan di dunia pesantren, apalagi dalam Film ini dibuka dengan kata mutiara dari Imam Syafi'i yang berhubungan dengan penuntutan ilmu .

2.      Penokohan
Analisis Penokohan
Tokoh Protagonis
Tokoh Protagonis yaitu Tokoh berprilaku baik didalam suatu cerita. Didalam Film yang berjudul “NEGERI 5 MENARA“ ini tokoh- tokoh yang termasuk tokoh  protagonis yaitu :
1.      Alif Fikri
Dia adalah pemeran utama dalam novel ini, dia berasal dari Maninjau BUKIT TINGGI, Dia anak yang baik, selalu usaha dalam melakukan sesuatu.
Berikut cuplikannya:“ kalau begitu,kalau kita mau berhasil ujian ini, kita belajar sedikit lebih lama dari kebanyakan teman –teman di Kamp konsentrasi ,“Simpulku.
“ Bismillah ya Tuhan, sudah aku kerahkan segala usaha, sekarang aku serahkan penampilanku kepadamu dengan segala ikhlas,”gumamku.

2.      Raja Lubis
Dia merupakan teman Alif pada waktu di PM,dia anak yang pintar dan memiliki pengetahuan yang luas.
Berikut Cuplikannya : “Untuk menarik perhatian pendengar, selain menggunakan suara yang lantang, ikat meraka dengan matakau, pandang mata mereka dengan lekat,” saran Raja sambil mengarahkan 2 jari kemataku.
“Arti harfiahya Kotak, bukan lemari (tempat pakaian buku dan segala macam yang kita punya.Lemari kecil yang lebih menyerupai kotak,” terang raja yang memiliki banyak informasi dan dengan senang hati berbagi.

3.      Baso Salahuddin
Dia adalah teman alif di PM,dia anaknya pendiam , sangat taat terhadap aturan dan mempunyai keinginan untuk menghafal Al-Qur’an .
Berikut  kutipan ceritanya : “melihat yang bukan mukhrim bisa menghilangkan hapalan Al-Qur’an ku”, kata baso dengan suara rendah.

4.      Said Jufri
Dia adalah teman alif di PM, dia anak yang selalu optimis memberikan saran –sarannya . berikut kutipan ceritanya : “tenang akhi , sebentar lagi kita akan selamat . asrama tinggal 100 m lagi insyaallah tidak akan kena hukum”, kata said dengan sangat optimis.
Said , ”Ya akhi , sebelum keasrama ,kita ke studio foto dulu yuk . kapan lagi tiga orang berkepala shaolin berfoto pakai sarung.” , said memang selalu tau bagaimana mengambil sisi positif dari setiap bencana .

5.      Atang
Dia adalah teman Alif pada waktu di PM, dia anak yang memiliki wajah serius, mudah mengenal seseorang, patuh terhadap aturan dan juga baik.
Berikut kutipan ceritanya : “Eh......kenalkan nama saya Atang,” sambil menyorongkan tangannya, dan buru – buru dia menambahkan , “saya dari Bandung urang sunda,”
“Said, ingat jangan kita menjadi Jasus 2x dalam 2 bulan,” sahut Atang disaat hendak melakukan kesalahan.
“Aku juga tidak punya duit sekarang, tapi aku bisa menjamin tinggal kalian selama diBandung. Pergi ke Bandung jelas tidak bayar karena naik mobil bapakku, untuk ongkos kembali dari Bandung ke PM aku bisa meminjamkan nanti,” bujuk Atang pada saat ingin mengajak Alif dan Baso.


6.      Dulmajid
Dia adalah teman Alif juga pada waktu di PM, dia anak yang baik, suka bercanda, setia kawan.
Berikut kutipan ceritanya :“ Lif, aku akan menunggumu sampai kamu selesai mengerjakan tugas itu ,” kata Dulmajid

7.      Amak
Beliau merupakan Ibu Alif , yang memiliki sifat jujur, adil sekaligus baik hati. Berikut kutipan ceritanya : “Bang Ambo ingin berlaku adil , dan keadilan hrus dimulai dari diri sendiri, bahkan anak sendiri. Aturannya siapa yang tak mau praktek menyanyi dapat angka merah,” kata Amak ketika Ayah bertanya, “kok tega memberi angka buruk pada anak.
“Kita disini adalah pendidik. Kalau kayak begini ini bukan mendidik, kemana muka kita disembunyikan dari Allah yang maha melihat.Ambo tak mau ikut bersokongkol dalam ke tidak jujuran ini,” frontal dan pas di ulu hati.

8.      Ayah Alif
Beliau adalah orang yang baik, tidak banyak bicara tapi sekali bicara langsung merasuk di hati. Berikut kutipa ceritanya : “ Pak anak ambo kelakuanya baik dan NEMnya termasuk paling tinggi di Agam, kami kirim untuk mendalami agama,” ucap ayah pada saat berbicara dengan pak Sutan yang menjengkelkan.

9.       Kyai Rais
Beliau adalah guru besar Alif  pada waktu di PM, Beliau orang yang sangat sabar, berwibawa, dan setiap kata – katanya enak didengar, merasuk dalm hati dan selalu benar terjadi jika dilaksanakan dengan sungguh – sungguh.                        
Berikut kutipan ceritanya : “Mandirilah maka kamu akan jadi orang merdeka dan maju. I’timad Ala Nafsi, bergantung pada diri sendiri, jangan dengan orang lain, cukuplah bantuan Tuhan yang menjdi panutanmu,” Nasihat Kyai Rais.

10.   Kak Iskandar
Dia adalh ketua asrama Al barq, tenpat Alif dengan Sahibul yang lain tidur, dia orang yang tegas dan baik.
Berikut kutipannya : “ Sebelum tidur, kami akan bacakan Qonun, aturan tidak tertulis yng tidak boleh dilanggar. Pelanggaran pasti akan diganjar sesuai dengan kesalahannya dan ganjaran paling berat adalah dipulangkan dari PM selama – lamanya,” katanya dengan serius dan tegas.

11.  Randai
Dia adalah teman kecil (teman akrab) Alif di Maninjau (dikampungnya), dia anaknya sedikit sombong, tapi dia juga baik.
Berikut kutipannya : “Kmu belum pernah lihat Komputer kan ? nah disini semua murid ikit belajar komputer karena sekolahku baru membuat Lab komputer yang paling modern di kota kita,senagnya” katanya dengan bangga hati.

12.  Ust Faris
Dia adalah Guru Alif di PM, beliau mengajar Al- Qur’an Hadist,orangnya baik dan selalu memberi nasihat yang baik pula.
Berikut kutipannya : “Bacalah Al – Qur’an dan Al Hadist dengan mata hati kalian, resapi dan lihatlah mereka secara menyeluruh, saling berkait menjadi pelita bagi kehidupan kita,” katanya dengan suara Bariton yang sangat terjaga vibranya.

13.   Ust Kholid
 Beliau adalah ustad yang sangat berpengalaman, dia juga pernah menuntut ilmu di Kairo, orangnya baik.
Brikut kutipannya : “ Iya sederhanya, kalau kita mewaqafkan tanah jesekolah maka tanah itu berpindah  ketangan sekolah itu selamanya untuk kepentingan sekolah dan umat. Dan saya, karena tidak punya tanah, yang saya waqafkan diri saya sendiri,” kata Ust Khalid.



14.   Ust Salman
Beliau adalah Wali Kelas Alif di PM, orangnya baik, dan beliau mengajar pelajaran sejarah di PM.
 Berikut kutipannya : “ Sejarah bukan seni bernostalgia, tapi sejarah adalah ibrah pelajran yng bisa kita tarik ke masa sekarang, untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik,” jelasnya.
“ Jadi pilihlah suasana hati kalian, dalam situasi paling kacau sekalipun, karena kalianlah master dan penguasa hati kalian. Dan hati yang selalu bisa dikuasai pemiliknya adalah hati orang sukses,” tandasnya dengan mata berkila - kilat.
     Tokoh Antagonis
Tokoh Antagonis yaitu tokoh yang biasanya memiliki prilaku yang jelek atau jahat, dalam Novel ini tokoh yang bertidak sebagai tokoh antagonis yakni :
1.      Tyson ( Rajab Suja’i)
Dia merupakan orang terhoror (paling di takuti) Alif selama di PM,wajahnya sangat menyeramkan dan mudah marah begitu saja.
Berikut kutipannya : “Hei...... nanti dulu, kalian tetap dihukum, di PM tidak ada kesalahan yang berlangsung tanpa dapat ganjaran ,” hardik si Tyson.

2.      Ust Torik
Dia adalah orang keduayang paling ditakuti setelah Tyson, dia tidak banyak bicara tapi sekali bicara menakutkan.
Berikut kutipannya : “Kamu ngomong apa ??? bicara yang jelas, lihat mata saya,” potongnya , matanya yang dalm mencorong tajam

Tokoh-tokoh dan watak dalam Film Negeri 5 Menara, yaitu:
a)      Amak
·         Seorang wanita separuh baya yang ramah : [“Mukanya selalu mengibarkan senyum ke siapa saja”]
·         Rela Berkorban : [“Amak terpaksa menjadi guru sukarela yang hanya dibayar dengan beras selama 7 tahun”]
·         Peduli akan nasib umat Islam : [“…Bagaimana nasib umat Islam nanti?” ]
·         Seorang ibu yang konsisten terhadap keputusannya : [“Pokoknya Amak tidak rela waang masuk SMA!”]
·         Adil : [“…Keadilan harus dimulai dari diri sendiri, bahkan dari anak sendiri. Aturannya adalah siapa yang tidak mau menyanyi dapat angka merah”)]
b)      Ayah
·         Seorang pria separuh baya yang membela kebenaran : [“Mungkin naluri kebapakannya tersengat untuk membela anak dan sekaligus membela dirinya sendiri” ]
·         Dapat dipercaya : [“Amanat dari jamaah surau kami untuk membeli seekor sapi untuk kurban idul adha minggu depan telah ditunaikan Ayah”]

d)     Alif
·         Seorang lelaki yang penurut : [“Selama ini aku anak penurut” ]
·         Ragu-ragu : [“Bahkan sesungguhnya aku sendiri belum yakin betul dengan keputusan ini”]
·         Teliti : [“Sejenak, aku cek lagi kalau semuanya telah rapi dan licin, tidak ada gombak dan kusut”]
e)      Dulmajid
·         Seorang lelaki yang Mandiri : [“Tentu saja saya datang sendiri,”]
·         Semangat : [“Animo belajarnya memang maut”]
·         Jujur, tegas serta setia kawan : [“Aku menyadari dia orang paling jujur, paling keras, tapi juga paling setia kawan yang aku kenal.”]
f)       Raja
·         Seorang lelaki yang Percaya diri : [“Raja Lubis yang duduk di meja paling depan maju”]
·         Ekspresif : [“…Tampak mengayun-ayunkan tinjunya diudara sambil berteriak “Allahu Akbar!”]
·         Pantang menyerah : [“Jangan. Kita coba dulu. Aku saja yang maju duluan,” ]
g)      Atang
·         Menepati Janji : [“Sesuai Janji, Atang yang membayari ongkos”]
·         Baik : [Aku bersyukur sekali mempunyai teman-teman yang baik dan tersebar dibeberapa kota seperti Atang dan Said.”]
h)      Said
·         Seorang lelaki yang memberi motivasi : [“…senyum dan cerita yang mengobarkan semangat”]
·         Berfikir dewasa  : [“Perawakan yang seperti orang tua dan cara berpikirnya yang dewasa membuat kami menerimanya sebagai yang terdepan”]
·         Seorang lelaki yang mengambil kebaikan dari suatu kejadian : [“Aku sendiri mengagumi caranya melihat segala sesuatu dengan positif”]
·         Baik : [Aku bersyukur sekali mempunyai teman-teman yang baik dan tersebar dibeberapa kota seperti Atang dan Said.”]
i)        Baso
·         Seorang lelaki yang Disiplin : [“Dia begitu disiplin menyediakan waktu untuk membaca buku favoritnya” ]
·         Rajin : [“Baso anak paling rajin diantara kami”]
·         Sunguh-sungguh : [“Hampir setiap waktu kami melihat Baso membaca buku pelajaran dan Al-Quran dengan sungguh-sungguh”]
·         Pendiam, Pemalu serta Tertutup : [“Selama ini memang Baso lah kawan kami yang paling Pendiam, Pemalu dan tertutup”]
j)        Ustad Salman
·         Seorang lelaki yang Kreatif : [“Itulah gaya unik Ustad Salman, selalu mencari jalan kreatif untuk terus memantik api potensi dan semangat kami”]
k)      Kiai Rais
·         Seorang lelaki separuh baya yang menjadi contoh di PM : [“…yang menjadi panutan kita dan semua orang selama di PM ini”]
·         Berbakat : [“Kiai Rais adalah sosok yang bisa menjelma menjadi apa saja” ]
l)        Tyson
·         Seorang lelaki yang Tegas : [“…Terlambat adalah terlamabat. Ini pelanggaran” ]
m)    Ustad Torik
·         Seorang lelaki yang Tegas : [“Kalian sudah tahu aturan adalah aturan. Semua yang ikut ke Surabaya saya tunggu di kantor. SEKARANG JUGA.”]


3.      Latar
a)      Latar tempat
·         Kantor Alif (Washington DC)
[“Dari balik kerai tipis di lantai empat ini..”]
·         Rumah Alif (Maninjau, Bukittinggi)
[“Sampai sekarang kami masih tinggal di rumah kontrakan beratap seng dengan dinding dan lantai kayu” ]
·         Trafalgar Square (London)
[“Tidak lama kemudian aku sampai di Trafalgar Square, sebuah lapangan beton yang amat luas.” ]
·           Pondok Madani
[“Tidak terasa, hampir satu jam kami berkeliling PM.” ]
·         Rumah Atang (Bandung)
[“Kaca depan rumahnya menempel sebuah stiker hijau dengan gambar matahari di tengahnya”]
·         Rumah Said (Surabaya)
[“...Mengajak kami keliling ke berbagai objek wisata di sekitar Surabaya...” ]
·      Apartemen Raja (London)
[“Malam itu kami menginap di apartemen Raja di dekat Stadion Wembley...” ]

b)      Latar waktu
·         Dini hari
      [“Dalam perjalananku dari Padang ke Jawa Timur, aku sempat sekilas melewati Jakarta jam tiga dini hari.” ]
·         Pagi hari
[“Sejak dari pagi buta suasana PM sudah heboh.”]
·         Sore hari
      [“Tidak siap menjawab pertanyaan interogatif di senja bergerimis dalam keadaan kepayahan ini.”]
·         Malam hari
[“Malam ini adalah salah satu dari malam-malam inspiratif yang digubah oleh Ustad Salman.”]
c)      Latar Suasana
·         Sepi
[“Diam sejenak. Sebuah pesan baru muncul lagi” ]
·         Emosi
[“Sebelum mereka menyahut, aku telah membanting pintu dan menguncinya”
·         Takut
[“Aku katupkan mataku rapat-rapat. Apa yang akan dilakukan Tyson ini padaku” ]
·            Gugup
[“Kalimat yang sudah aku bayangkan tadi berantakan di bawah sorot mata Ustad Torik yang bikin ngilu.”]
·            Bahagia
[“Dengan penuh kemenangan kami keluar dari gerbang PM” ]
·            Sedih
[“Di ujung kelopak matanya aku menangkap kilau air yang siap luruh. Suaranya kini bergetar”]

4.      Alur
Alur yang ada dalam film yang di angkat dari novel “Negeri 5 Menara”, yaitu alur maju-mundur. Hal ini dibuktikan oleh beberapa tahapan sebagai berikut:

·         Pengenalan / Awal cerita
Awal cerita dalam film ini dibuka oleh Alif yang telah tinggal di Washington DC, Amerika Serikat dengan pekerjaannya sebagai Wartawan VOA, lalu setelah itu ia kembali mengingat masa lalunya saat konflik dimulai ["Aku tersenyum. Pikiranku langsung terbang jauh ke masa lalu. Masa yang sangat kuat terpatri dalam hatiku"]
·         Timbulnya konflik / Titik awal pertikaian
Awal Pertikaian dimulai saat Amak menyuruh Alif untuk tidak melanjutkan sekolahnya ke SMA tetapi ke Pesantren dan Alif menolak permintaan Amak pada saat baru diberitahukan. Tetapi akhirnya, Alif pun bersedia bersekolah di pesantren yang terletak di luar pulau Sumatera walaupun hanya setengah hati : [“Jadi Amak minta dengan sangat waang tidak masuk SMA. Bukan karena uang tapi supaya ada bibit unggul yang masuk madrasah aliyah.”]
·         Puncak konflik / Titik puncak cerita
Titik puncak cerita dimulai saat Alif sudah naik kelas 6 di Pondok Madani (PM) dan menjadi puncak rantai makanan alias kelas tertinggi di Pondok Madani : [“Seketika rasa ini melempar ingatanku kembali ke PM, ketika kami naik kelas enam, kelas pemuncak di PM.” ]
·         Antiklimaks
Antiklimaks dalam film ini dimulai pada saat Alif serta santri PM lainnya akan mengadakan ujian akhir yang dilaksanakan oleh siswa tahun terakhir PM. [“Inilah ujian yang paling berat yang paling berat yang anak-anak temui di PM”]
·         Penyelesaian masalah
Pada akhirnya, setelah alif menyelesaikan ujian pamungkas di PM serta lulus dari PM, cerita berbalik ke Alif yang telah sampai di London untuk bertemu dengan Atang dan Raja yang merupakan anggota Sahibul Menara .

5.      Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan pengarang dalam film tersebut, yaitu sudut pandang orang pertama tunggal dengan “Aku” sebagai tokoh utama. Hal ini dibuktikan oleh pengarang yang selalu menyebut tokoh utama dengan kata “Aku” saat di narasi, di mana seakan-akan pengarang adalah si tokoh utama : [“Iseng aja, aku mendekat ke jendela kaca dan menyentuh permukaannya dengan ujung telunjuk kananku”]
6.      Gaya Bahasa
·         Majas Personifikasi
[“Hawa dingin segera menjalari wajah dan lengan kananku”]
·         Majas hiperbola
[“Muka dan kupingku bersemu merah tapi jantungku melonjak-lonjak girang.” ]
·         Majas Metafora
[“Matahari sore menggantung condong ke barat berbentuk piring putih susu” ]
7.      Amanat
Amanat yang terkandung dalam film Negeri 5 Menara ini adalah bahwa dalam mengejar semua cita-cita beserta impian, tidak semuanya berjalan sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan tapi semuanya berjalan seiring bagaimana kita menyelesaikan rintangan yang datang menghadang dan untuk mendapatkan menggapainya juga, kita harus mengorbankan sesuatu.
Adapun amanat dari novel ini adalah sebuah perenungan yang diberikan penulis bagi penbaca untuk tidak putus asa dalam hidup dan bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan agama.
Kutipan film:
Jangan pernah meremehkan impian walau setinggi apapun, tuhan sesungguh maha mendengar.
Man jadda wajada, siapa yang sungguh-sungguh akan berhasil.
Amanat bagi pembaca berikutnya adalah pentingnya kedinamaisan.
Berikut terdapat di   Film Negeri 5 menara tentang pentingnya kedinamisan dalam hidup bagi orang-orang yang berilmu
“orang yang berilmu dan beradab tidak akan diam dikampung halaman. Tinggalkan  negerimu dan mernataulah ke negeri orang. Merantaulah, kaua kan mendapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang .. singa jika tak tinggalkan sarang tidak akan mendapatkan mangsa. Bijih emas bagaikan panah biasa sebelum digali dari tambang. Jika matahari diorbitnya tidak bergerak dan terus diam tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.
Selain amanat yang telah dijelaskan diatas oleh Film negeri 5 menara juga member pesan agar meraih ilmu dan pendidikan setinggi-tingginya. Karena orang berilmu memiliki derajat yang lebih tinggi dari pada orang yang tidak berilmu. Menuntut ilmu karena tuhan memudahkan jalan kalian ke surga, malaikat membentangkan sayap buat kalian, bahkan penghuni langit dan bumi sampai ikan paus di lautan memintakan ampun bagi orang yang berilmu. Reguklah ilmu di sini dengan membuka pikiran , mata dan hati kalian”.
Pondok Pesantren Madani adalah salah satu sarana bagi siswa dalam menimba ilmu. Dari kutipan ceramah Kiai Rais dapat dipahami bahwa para pencari ilmu adalah orang-orang yang dimudahkan dalam meraih surga. Dari itu, dapat dimaknai bahwa penulis ingin menyampaikan pesan kepada pembaca bahwa supaya masyarakat  mencari ilmu setinggi-tingginya karena sesuai dengan kutipan tersebut bahwa pencari ilmu diberi kedudukan yang lebih istimewa yakni dimudahkan jalan menuju surga. Pesan yang disampaikan penulis dapat diartikan bahwa salah satu jalan menuju surga adalah mencari ilmu sebanyak-banyaknya . jadi pesan penulis bagi pembaca yakni menganjurkan pembaca agar meraih ilmu yang setinggi-tingginya meskipun harus keluar kampong dan jauh dari keluarga.
Disamping itu, terdapat amanat-amanat yang tersurat terdapat pula pesan singkat yang tersirat. Pesan yang tersirat adalah pesan yang terkandung dalam sebuah karya sastra meskipun tidak ada bukti konkrit dari naskah suatu karya sastra tersebut.  Pesan tersirat  tersebut  yakni mengenai keutamaan doa dan ridho orang tua dalam kehidupan Alif sang pemeran utama adalah seorang anak yang datang dari keluarga sederhana dan masih memiliki keturunan darah  ulama . cita-cita Alif sebenarnya inginmenjadi seorang insinyur. Tokoh idolanya adalah Habibie. Setelah ia lulus dari Madrasah Tsanawiyah , sebenatnya ia ingin melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi yakni SMA. Karena ia menganggap tiga tajun menempuh pendidikan di Tsanawiyah telah cukup bekal dasar ilmu agamanya. Ia ingin mempelajari ilmu non agama dan melanjutkan kuliah di UI tai ITB. Namun keinginan dan cita-citanya tersebut terhalang denagn keinginan orang  tuanya ingin menjadikan putranya seperti Buya Hamka. Pada awalnya Alif berontak tapi akhirnya ia berfikir bahwa tidak ada gunanya melawan keinginan ibunya yang mulia itu. Hingga ia memutuskan untuk menempuh pendidikan menengahnya di pesantren madani jawa. Banyak kisah yang ia hadapi bersama teman-temannya yang datang dari berbagai daerah. Hingga akhirnya ia meraih kesuksesan di Ameriak. Hal tersebut pada dasarnya tak luptu dari doa dan ridho yang diberikan oleh orang tuanya.  Penulis memberikan pesan kepada pembaca, bahwa doa dan ridho orang tua adalah sesuatu yang harus diutamakan. Meskipun pesan tersebut tidak tersurat. Namun dapat dipahami oleh pembaca yang telah selesai membaca keseluruhan cerita.

§  Unsur-Unsur Ekstrinsik
a.       Nilai Ketuhanan
·         Sangat banyak nilai ketuhanan yang terkandung dalam novel Negeri 5 Menara, diantaranya kita sebagai manusia sama di sisi ALLAH.
b.      Nilai Moral
·         Kebersamaan Sahibul Menara dalam menghadapi segala hal dengan kerja sama dan pantang menyerah
c.       Nilai Sosial
·         Di kehidupan pesantren, kita tidak diajarkan untuk egois, tapi saling membantu satu sama lain, mengutamakan kesolidaritasan.
d.      Nilai Ekonomi
·         Para pengajar di Pondok Madani tidak meminta untuk dibyar, mereka ikhlas mendidik santri karen ALLAH SWT, serta santri di Pondok Madani yang banyak kekurangan secara ekonomi tetapi masih bisa bersekolah di Pondok Madani.
e.      Nilai Budaya
·         Anak laki-laki dan seorang ayah masyarakat Minangkabau tidak pernah berangkulan : [“Di kampungku memang tidak ada budaya berangkulan anak laki-laki dan seorang ayah”
f.        Nilai Agama
·         Film ini menceritakan tentang kehidupan pesantren yang selalu mengajarkan nilai-nilai agama, mulai dari keikhlasan, bersikap jujur, disiplin dan lain sebagainya : [“Bacalah Al-Quran dan hadits dengan mata hati kalian....”]


C.                HASIL TEMUAN
Temuan yang didapatkan dalam film“Negeri 5 Menara”
a.       Disini penulis menemukan bahwa, anak-anak yang disekolahkan di pesantren identik dengan anak-anak yang nakal, kekurangan baik secara ekonomi maupun akademik. [“Akibatnya, madrasah menjadi tempat murid warga kelas dua, sisa-sisa...”].
b.      Hal-hal yang harus kita hadapi dalam kehidupan pesantren yang keras, kita tidak boleh berleha-leha, harus bisa mengatur waktu.










BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
Banyak kelebihan atau nilai-nilai positif yang terkandung dalam Film Negeri 5 Menara ini, diantaranya adalah:
Berbakti kepada orang tua & visi hidup
Alif menunjukkan sosok yang taat kepada keinginan orang tuanya, walaupun ia harus mengorbankan cita-citanya untuk bersekolah di Bandung. Orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Amak Alif menginginkan ada bibit unggul yang masuk ke dalam pesantren, karena selama ini pesantren dianggap sebagai ‘bengkel’ untuk merenovasi akhlak dan perbuatan anak yang dimasukkan ke sana. Keinginan Amak Alif agar Alif menjadi ulama seperti Buya Hamka, agar Alif bermanfaat untuk umat merupakan ide yang sungguh mulia. Banyak di sekitar kita yang berlomba-lomba menyekolahkan anaknya di sekolah yang popular secara akademis atau fasilitas, tanpa mempertimbangkan kebermanfaatannya ke depan. Visi seorang Amak mampu menggiring penonton untuk berpikir bahwa kita membutuhkan sosok-sosok yang bisa memikirkan dan bermanfat untuk sesama, bukan sosok-sosok yang sibuk memikirkan dirinya sendiri. Keinginan Baso untuk menghafal Al Quran juga didorong keinginannya untuk mempersembahkan jubah kemuliaan untuk orangtuanya yang telah meninggal. Penonton akan diajak untuk merenungkan hal apa yang sudah diberikan pada orang tua tercinta. Adegan ini mestinya mampu mengajak penonton untuk berbakti pada orang tua.
Pola asuh demokratis
Walaupun Alif pada awalnya tidak setuju dengan keinginan orangtuanya untuk melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren, orang tua Alif tidak menunjukkan kesan memaksa, tetapi tetap bersikap biasa seperti tidak terjadi masalah setelah Alif lari dari rumah dan mengurung diri di kamar. Hal ini terlihat dari Amak yang membawakan makanan ke kamar Alif. Ketika menemui perbedaan pendapat, orang tua sebaiknya tidak berkata keras kepada anak agar anak tidak semakin membangkang. Dalam film ini terlihat orang tua Alif yang tetap bijak menanggapi ketidaksetujuan Alif.
Keikhlasan                     
Tampak keikhlasan Alif ketika akhirnya menuruti keinginan orang tuanya untuk melanjutkan sekolah di Pondok Madani. Ayah Alif juga terlihat ikhlas merelakan harta mereka yang berupa kerbau untuk biaya sekolah Alif. Keikhlasan juga tampak setelah Alif membatalkan rencana menjawab asal tes masuk pondok Madani. Para ustad yang menurut Kyai Rais tidak dibayar pun mampu membuat kita membandingkan dengan banyak kalangan pegawai dewasa ini yang masih suka menuntut gaji yang lebih tinggi. Segala sesuatu kalau ikhlas dilakukan InsyaAllah akan menjadikan jalan yang ditempuh serasa ringan, bebas dari beban. Bayangkan kalau semua anak didik di Indonesia tidak ikhlas bersekolah, apa yang akan mereka dapat di sekolah? Di film ini, keikhlasan tergambarkan dengan cukup baik.
Motivasi
 Ayah Alif memotivasi Alif melalui transaksi jual beli kerbau. Proses tawar-menawar kerbau dilakukan di dalam sarung, dengan kode-kode tertentu. Ayah Alif memberikan pemahaman kepada Alif agar kita harus berani mencoba rasanya dulu sebelum tahu baik atau buruknya sesuatu, jadi Alif dianjurkan untuk tidak cepat menilai.
 Kyai Rais dalam pidatonya mengatakan bahwa para santri akan dididik menjadi orang besar, tetapi bukan orang besar seperti pengusaha besar, menteri, ketua partai, ketua DPR/MPR, atau ketua ormas Islam. Orang besar yang dimaksud Kyai Rais adalah menjadi orang yang akan menyebarkan ilmunya sampai ke pelosok negeri. Beberapa kali juga ditampilkan tulisan “Ke Madani, Apa Yang Kau Cari”, sehingga tulisan ini seolah mengingatkan para santri untuk terus meluruskan niat selama belajar di pondok pesantren.
Pada hari pertama masuk kelas, Ustad Salman membawa batang kayu dan pedang yang sudah berkarat. Di depan kelas ustad Salman terus berusaha menebas batang kayu itu dengan pedang tadi. Setelah ditebas terus-menerus, akhirnya batang kayunya dapat terbelah juga. Kemudian Ustad Salman berseru “Man Jadda Wajada, ingat, bukan yang paling tajam, siapa yang bersungguh-sungguh, dia yang akan berhasil, Man Jadda Wajada!!!”, akhirnya pepatah alias mantra berbahasa arab ini terus-menerus didengungkan oleh para santri. Mantra ini mampu menyihir keadaan yang pesimis menjadi optimis. Siapa sangka pedang tumpul berkarat mampu menebas batang kayu yang kuat? Man Jadda Wajada, Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil, sebuah mantra ajaib yang senantiasa menyemangati setiap usaha. Metode yang dipakai oleh ustad Salman itu patut dicontoh oleh para pendidik. Kita membutuhkan ilustrasi yang tepat untuk dapat memotivasi anak didik agar tujuannya tecapai. Saya rasa, adegan membelah kayu itu merupakan hal luar biasa, akan susah dilupakan.
Persahabatan
Ada pesahabatan yang kokoh diantara Alif, Baso, Raja, Atang, Said, dan Dulmajid, yang dijuluki Sahibul Menara. Kekokohannya tergambarkan dalam awal pesahabatan mereka di pondok Madani sampai bertahun- tehun kemudian setelah mereka melalang buana ke negeri-negeri impian mereka. Biasanya, seiring berjalannya waktu, jalinan persahabatan dengan teman-teman sekolah semakin mengendor tergerus persahabatan baru yang terjalin, tetapi di film ini digambarkan kebalikannya, ini menunjukkan ikatan silaturahmi yang dengan kuatnya tetap terjaga. Dalam persahabatan itu mereka juga saling menguatkan, terlihat ketika Alif mulai patah semangat, ingin meninggalkan pondok Madani dan meneruskan SMA di Bandung. Setelah dikucilkan karena impiannya ini, ada temannya yang menguatkan Alif untuk tetap meneruskan pendidikannya di pondok Madani.
Kerja sama
Di hari pertama, tampak sahibul menara saling bekerja sama mangangkat lemari yang baru di beli. Kerja sama lainnya juga terlihat ketika sahibul menara membantu memperbaiki diesel yang sering macet. Hal lain terlihat pula ketika Alif, Said, Atang, Raja, dan Dulmajid saling bekerja sama membantu latihan lomba pidato bahasa Ingrisnya Baso dengan membuat orang-orangan memakai kayu dan sarung. Pun ketika Baso mengalami ‘kemacetan’ ketika lomba, para sahibul menara langsung membantunya dengan menghadirkan orang-orangan itu ke ruang lomba sehingga Baso pun akhirnya meraih juara. Ketika sahibul menara berkeinginan menonton final piala Thomas, mereka mengajak ustad Salman untuk membujuk Ustad Thorik menyetujui usul itu. Dengan kerja sama melalui strategi bermain bulu tangkis bersama sambil mengobrol tentang pentingnya menyaksikan pertandingan final piala Thomas di televisi, akhirnya keinginan itu bisa terwujud. Kerja sama yang sangat bagus juga ditunjukkan dalam persiapan dan pelaksanaan pentas teater Ibnu Batutah. Dengan semangat sahibul menara mesti jauh-jauh menuju perkotaan Ponorogo untuk membeli es. Di adegan film digambarkan akhirnya sahibul menara kembali ke pondok Madani dengan mengendarai beberapa becak, dengan becak terakhir berisi para tukang becak. Pementasan Ibnu Babtutah sendiri akhirnya berjalan dengan memuaskan.
Kerjasama mutlak diperlukan karena setiap orang tidak mungkin bisa hidup sendiri. Kerja sama yang baik ditunjukkan dalam film ini melalui pembagian tugas.
Tanggung jawab
Adegan tentang tangung jawab terlihat dalam adegan Alif yang mengerjakan soal tes masuk pondok Madani menggunakan pena warisan kakeknya, setelah melihat dukungan ayahnya dari luar jendela. Alif merevisi jawaban asalnya menjadi jawaban yang benar karena Alif merasa bertanggung jawab kepada pilihannya akhirnya, yaitu belajar di pondok pesantren. Kyai Rais juga meminta sahibul menara untuk bertanggung jawab memikirkan solusi dari keluhan masalah diesel yang disampaikan sahibul menara. Manusia yang baik adalah manusia yang bisa bertanggung jawab terhadap segala hal yang berasal dari dirinya. Di film ini tergambarkan tanggung jawab terhadap pilihan dan tanggung jawab terhadap perbuatan.
Disiplin terhadap waktu
Ketika lonceng sudah dibunyikan, tanda bahwa para santri sudah harus ke masjid untuk salat maghrib, sahibul menara masih berurusan dengan angkut-mengangkut lemari, sehingga akhirnya mereka dihukum oleh penjaga ketertiban dengan hukuman jewer satu sama lain. Visualisasi ini mengajarkan pada kita bahwa kalau kita tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik, kerugian akan didapat.
Berani bermimpi
Kebiasaan sahibul menara memandang awan di bawah menara sambil menyatakan impian-impiannya pergi menuju berbagai negara merupakan hal yang patut diacungi jempol. Banyak generasi muda kita yang bermimpi saja takut. Padahal, mimpi yang berani kita utarakan akan mendorong kita melakukan langkah-langkah untuk mencapainya. Dan Tuhan adalah maha mendengar dan maha menjadikan. Terbukti di akhir film, mimpi-mimpi sahibul menara terwujud semua. Karena itu, kita diajari untuk tidak meremehkan mimpi.
Kerja keras
Kerja keras Alif terlihat ketika di tengah malam Alif masih mengerjakan laporan berita untuk diberikan kepada Kak Fahmi sebagai syarat bergabung dalam majalah Syams, padahal teman-teman sekamarnya sudah tidur semua. Alif juga berjuang untuk memenangkan taruhan dari temannya untuk mendapatkan foto Sarah. Piala didapatkan Baso setelah dia berlatih keras dalam lomba pidato bahasa Inggris. Apa yang kita inginkan menuntut kerja keras kita untuk meraihnya. Jarang ada sesuatu yang instan yang bisa kita raih, semuanya membutuhkan usaha, dan film ini menggambarkannya dengan baik.
Kreativitas
Adegan lucu Baso yang hampir terlambat menuju masjid dan terpaksa memakai selimut yang sedang dijemur sebagai sarung merupakan sisi kreativitas yang coba dihadirkan di film ini. Terkadang kita dituntut cepat untuk menyelesaikan masalah. Berpikir out of the box sering menjadi jawaban atas banyak masalah.
Sikap jujur
Kyai Rais menolak mentah-mentah suap-an seorang tentara yang menginginkan anak pimpinannya diloloskan untuk masuk ke pondok Madani, pasca ketidaklulusannya. Sikap Kyai Rais ini memberikan keteladanan sosok pemimpin yang jujur, yang mana negeri kita sekarang benar-benar haus akan sosok seperti ini.
Menetapkan prioritas
Baso akhirnya harus meninggalkan sekolahnya karena neneknya sakit keras. Segala bujukan teman-temannya untuk tetap tinggal di pesantren ditolaknya secara halus. Ia mengatakan bahwa yang datang menjemputnya jauh-jauh adalah tetangganya. Jika tetangganya saja sudah berkorban sejauh itu untuk neneknya, maka memang Baso sebaiknya meninggalkan pondok Madani. Hal yang hampir sama juga terjadi pada ustad Salman yang akhirnya harus meninggalkan pondok Madani untuk berumah tangga. Dukungan untuk pergi dari pesantren didapatkannya dari Kyai Rais. Hidup itu diwarnai dengan pilihan-pilihan. Maka menetapkan hati dengan melihat baik-buruknya merupakan hal utama yang harus dilakukan dalam menetapkan prioritas. Kita sebagai manusia berakal dituntut pintar dalam hal yang satu ini.
Sistem pendidikan modern pesantren
Dalam novel ini tergambar dengan jelas bahwa pesantren itu tidak selalu identik dengan ngaji. Tetapi di pesantren pun kegiatan-kegiatan yang merupakan penyaluran hobi juga digiatkan. Taruhlah kegiatan olah raga, kesenian, ataupun jurnalistik. Semua keinginan santri terwadahi. Bahkan di film ini diperlihatkan sosok Kyai Rais, yang notabene adalah pimpinan pondok pesantren, jago memainkan gitar.
Kurang rasanya kalau saya banyak membicarakan tentang nilai-nilai positif atau kelebihan film Negeri 5 Menara tetapi tidak membicarakan kekurangannya. Ok, menurut saya, kekurangan film ini diantaranya:
Akting dari seorang adik Alif terlihat sangat kaku, sehingga kurang terlalu enak untuk dilihat.
Baso terlihat lebih mendominasi dalam cerita dibanding tokoh utamanya, Alif.
Kurang tergambarkan kerja keras dan perjuangan para santri di pondok Madani dalam belajar. Memang ada satu adegan dimana Alif megerjakan tugas sampai malam, tapi untuk kegiatan belajar menjelang ujian misalnya, tidak tergambarkan di film.
Adegan ustad Salman ketika melihat Alif masih mengerjakan tugas sampai malam kemudian mengatakan “Going the extra miles” tidak segera dilanjutkan dengan tahapan penjelasan bahwa going the extra miles berarti berusaha di atas rata-rata orang kebanyakan. Padahal menurut saya, kalimat ini penting, dan belum tentu semua orang yang menonton film ini memahami arti kalimat yang disampaikan ustad Salman itu.
Akhir dari cerita ini terlalu tiba-tiba. Tidak diceritakan walau itu berupa tulisan-tulisan singkat & cepat mengenai perjalanan kehidupan sahibul menara. Tahu-tahu, Alif, Raja. Dan Atang sudah ada di Trafalgar Square London dan menghubungi anggota sahibul menara lainnya.
Nilai negatif
Melawan terhadap orang tua, ketika ama menyuruh alif untuk meneruskan sekolah di pesantren alif menghardik ibunya.
Kutipannya adalah “aku tidak ingin”,
Nilai negatif lainnya ketika alif meremehkan orang yang bersekolah di pesantren, dialog ini terjadi saat  Alif dan ibunya berdebat untuk masuk ke madrasah atau pesantren “tapi bukan salah ambo orang tua lain mengirim anak yang kurang cadiak masuk madrasah”
 Kutipan negative lainnya dalah ketika Alif mulai pesimis akan kemajuan hidupnya di madrasah “ Tuhan mungkin kah aku bisa menginjakkan kaki di benua lainnya, dan akan kah dengan bersekolah dimadrasah ini kehidupan ku akan berubah?”
“Ya Tuhan aku tidak punya tenaga untuk menhafal Al-Quran ini”
Menjadi nilai negatif karena alif pesimis dan belum berusah untuk mengerahkan kemampuannya.

B.     SARAN
Adapun saran yang penulis berikan ialah :
1.      Diharapkan para pembaca makalah ini dapat lebih mengenal dan mengetahui akan   penokohan yang ada dalam makalah ini.
2.      Hendaknya mengambil hikmah dari isi film ini sebagai salah satu acuan hidup para  pemuda Indonesia untuk kehidupan masa depan kelak.
3.       Hendaknya dapat meneladani sifat tokoh utama dalam kehidupan.



DAFTAR PUSTAKA
Endraswara, Suwardi.( 2008). Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Medpress
Fuadi, A.( 2009). Negeri 5 Menara. Jakarta : PT Gramedia
Jauhari, Heri.( 2008). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Pustaka Setia
Nurgiyantoro, Burhan. (2010). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gajah Mada University Press
Ratna, Nyoman Kutha. (2009). Penelitian Sastra ( Teori, Metode, dan Teknik ). Yogyakarta : Pustaka Pelajar
                          

1 komentar: