Google+ Badge

Minggu, 27 Januari 2013

JEMBATAN GANTUNG PENAJUNG SEKADAU



JEMBATAN GANTUNG PENAJUNG

SEKADAU
Meski sudah berusia uzur, keberadaan jembatan (gertak) masih memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Sekadau. Hingga sekarang, warga yang menggunakan kendaraan roda dua sering terlihat melintas jembatan itu.
“Tiap hari lewat Penjanjung, saya selalu melintas jembatan gantung ini,” ujar Pahwaty, salah seorang petani karet di km 7 Jalan Raya Sekadau-Sintang kepada Equator, kemarin.

Kegemaran Pahwaty melintas di jembatan gantung Penanjung bukan tanpa alasan. Pasalnya, jembatan itu sudah tidak pernah lagi dilintasi kendaraan roda empat yang sekarang sudah lewat jembatan baru.

“Jadi lebih aman. Kita tidak akan berpapasan lagi dengan mobil jika lewat jembatan gantung itu,” tuturnya.

Selain tidak dilintasi kendaraan roda empat, kegemaran masyarakat melintasi jembatan gantung Penanjung juga dilakukan untuk menghindari debu. Pasalnya, jalan akses masuk jembatan baru sudah dalam kondisi rusak dan berdebu jika banyak mobil yang melintas.

“Kalau dari jembatan lama ini kan tidak ada debu. Jalan masuk dan keluar jembatan juga masih lumayan bagus,” tutur Pahwaty.

Jembatan gantung Penanjung berada di daerah Penanjung Desa Mungguk, Kecamatan Sekadau Hilir. Informasi yang dihimpun Equator dari sejumlah tokoh masyarakat Sekadau menyebutkan, jembatan itu dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1937 atau delapan tahun sebelum Republik Indonesia merdeka.

Jembatan Penanjung memiliki panjang sekitar 80 meter. Sementara lebar jembatan gantung Penanjung sekitar 5 meter dengan lantai terbuat dari kayu ulin (belian) yang memiliki kualitas sangat kuat.

Sesuai dengan namanya, konstruksi jembatan gantung Penanjung sama dengan jembatan gantung lainnya. Lantai jembatan bergantung dengan dua tali selang besar yang terhubung ke empat tiang menara.

Jembatan gantung Penanjung sudah tidak digunakan sejak belasan tahun terakhir setelah pemerintah membangun jembatan baru.

“Kita harap pemerintah bisa terus merawat jembatan gantung Penanjung ini. Jembatan ini merupakan aset sejarah yang tak ternilai harganya,